Di atas bumi yang sedang ku pijak.
Di bawah langit yang selalu dijunjung.
Bersama dengan diriku yang sebenarnya, ingin bersama denganmu.
Di atas bumi yang sedang ku pijak.
Di bawah langit yang selalu dijunjung.
Bersama dengan diriku yang sebenarnya, ingin bersama denganmu.
Pamungkas, aku tidak menyalahkan lagumu, sungguh. Hanya saja, memang tidak bisa.
https://open.spotify.com/playlist/1TsrD2MvDp6U3KSCSKhNgL?si=_R4Y3tAESB-hwQpAZiB79w
Engkau mempertemukan diriku dengannya bukan tanpa sebab. Semua hal yang terjadi bukan hanya karena kata kebetulan, namun karena memang diriku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan dirimu.
Saat itu takdirmu pun menuntun dirimu untuk melangkah ke arahku, dan bertemu di tempat dan waktu yang tepat denganku.
Dirinya yang memberiku sebuah awal perkenalan yang manis. Disertai sepucuk surat yang akan selalu ku simpan, hingga alam semesta raib tertepa hangatnya takdir yang pahit.
Terkadang, dirinya nampak seperti dekat dariku. Dan terkadang, dirinya juga nampak begitu jauh dariku. Namun, dirinya dan diriku untungnya masih berada di bawah kaki langit yang sama. Menghirup udara yang sama, menginjak tanah yang sama, dan menatap langit yang sama.
Biarlah perasaan yang Engkau tanamkan ini raib seperti lembaran-lembaran daun yang jatuh ke atas bumi dan terbang terbawa soraian angin. Namun, sang daun tak pernah menyesal dan membenci sang angin. Karena itu lah takdirnya. Semua adalah tentang menerima, mengiklaskan, mencintaimu dalam lautan doa-doa yang menembus langit yang selalu dirimu tatap itu.
Dari : Ungkapan yang tak akan pernah tersampaikan kepada dirimu.
Dipenghujung cerita, dirimu juga akan hilang.
Tak akan pernah ditemukan kembali, hingga sang maha kuasa mempertemukan.
Dipenghujung cerita, hanya aku yang mengingat rasa dan pertemuan itu.
Dan dirimu bahkan tidak pernah merasa, apa yang diriku rasa.
Mengapa aku merasa Tuan hanya menganggapku sebagai seekor lebah?
Mengapa aku merasa Tuan hanya menganggapku sebagai seonggok manusia?
Sedang aku menganggap Tuan sebagai sebuah pohon kehidupan.
Sedang aku menganggap Tuan sebagai seseorang yang istimewa.
Seperti yang sudah kita duga, semuanya akan menjadi asing. Bahkan sahabat sedekat nadi pun pada akhirnya akan berpisah juga. Aku seolah pali...