Bahkan sahabat sedekat nadi pun pada akhirnya akan berpisah juga.
Aku seolah paling tau, akhirnya akan jadi yang ditinggalkan.
Padahal, akulah yang meninggalkannya.
Aku terlalu takut dan menciut seperti siput, padahal aku lah sang kelinci yang berlari meninggalkannya.
Terkadang sesuatu yang kita takutkan adalah suatu hal yang sedang kita lakukan kepada orang lain.
Aku selalu ingin menyapanya kembali, namun dengan kehadiranku itu akan lebih menyakiti perasaanmu. Mempermainkan hatimu.
Sejak kita terlahir dan melihat luasnya dunia ini, kita sudah ditakdirkan hanya untuk saling mengenal dan menorehkan rasa sakit.
Aku selalu berangan-angan untuk bisa kembali ke masa itu, ke awal pertemuan kita.
Jikalau aku bisa kembali, aku akan menghindari awal pertemuan itu.
Yang membuat kita menjadi rumit dan hanya menyisakan kenangan pahit.
Katanya, yang lain boleh hilang asal kau jangan.
Tapi bagiku, biar aku saja yang hilang asal kau jangan.